Sekilas penampilannya sederhana. Umur masih muda (sekitar 26-28), kalau ke kampus dia cm pakai kemeja lusuh (ga diseterika), tas, dan absensi mahasiswa. Seringnya cuma jalan kaki dari kos-kosannya atau kalau nggak ya pakai sepeda ontel kl lagi ke kampus; tapi aku sering melihatnya hanya jalan kaki. Makanya ketika sampai kelas, sering aku melihat bajunya basah dengan keringatnya…
Pertama kali melihatnya aku teringat pada seorang teman di SMP dl, yang juga bisa dikategorikan pinter. Tapi sayang, kesempatan dan jalan hidup hanya mengantarkan dia untuk menikmati sepetak sawah yang ditinggalkan bapak&ibunya yang mulai tua… Tapi aku rasa dia menikmati itu, karena menurutnya itu lah bentuk rasa syukur terhadap-Nya.
Kembali kepada sosok yang aku ceritakan diatas; kesederhanaan dalam kepintaran, itu adalah benang merah antara dosen ini dengan teman lamaku di SMP dulu. Hanya bedanya sekarang, si dosen mendapatkan kesempatan (yang mungkin dari dosennya sebagai promotornya) untuk menempuh program pasca sarjana di sebuah institute terkenal di Indonesia. Menurutku seh, dia berhak untuk mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri, tapi mungkin karena kesempatan yang dia dapat (cukup) di Indonesia, atau bisa juga dia gak mau melanjutkan studi ke luar negeri dengan alasan-alasan pribadinya sendiri.
Ketertarikannya terhadap fisika modern sangat tampak pada penjelasan-penjelasannya, fesbuknya, dsb. Tapi di kelas dia mengajarkan fisika klasik seperti hokum Newton and termodinamika. Aku seh bisa jamin, ini dosen pasti memiliki prestasi sekelas nasional dalam bidang science pada saat dia sekolah dulu. Memang untuk kategori dosen kelas malam (identik dengan mahasiswa yang sudah kerja and memilki pengalaman), dosenku ini bukan tipenya. Selain karena dari umur masih muda, materi juga selalu dia sampaikan apa adanya, tampak tidak ada transfer ilmu antara pengajar dengan mahasiswanya. Dia menjelaskan seperti dia sedang berkomunikasi dengan makhluk lain di luar sana dengan gaya fikir dia sendiri yang orang lain mungkin nggak sejalan dengannya. Apa yang terjadi di kelas pun dia nggak pikir pusing. Toh tugas dia hanya datang, absen, ngajar, udah, selesai terima gaji… Jujur, tambahan uang saku, bayar kos-kosannya, biaya hidup adalah tujuan dari itu semua. Dia akan cukup-cukup kan gajinya sebagai dosen yunior untuk hal tersebut diatas plus mungkin membiaya adik-adiknya dan keluarganya. Itu semua bisa aku baca dari kesederhanaan yang ditampilkannya di dalam kelas. Dan sebagai mahasiswa, aku salut!! Oh iya, satu yang pasti, dalam kondisi kayak gitu dia tidak memanfaatkan untuk menjual diktat, catatan kuliah, atau sebagainya ke mahasiswa!
Hmmm…, jujur aku sungkan kalau sering bolos dari kuliahnya. Dia nggak cari apa-apa dari aku kok. Dia hanya ingin mengajar, untuk menambah uang saku, menyambung hidup sebagai mahasiswa pasca sarjana di kota besar seperti Surabaya. Bravo bro!! Sukses terus dalam mewujudkan mimpimu seperti Arai dan Lintang di Laskar Pelangi. Tidak banyak pemuda Indonesia bisa seperti kamu. Banyak yang mimpi itu terpaksa tenggelam dalam mimpi seperti nasib temenku SMP dulu….