Bicara Budaya…

Ngabuburit di depan computer…

(berpikir) Knp ya sebuah budaya, adat, keyakinan, kultur atau apapun namanya selalu memiliki sisi untuk mendominasi budaya sebelumnya?? Selalu ada pembenaran sepihak dari sebuah budaya atas budaya yang lain, apapun argumennya. Ketika Subyek dan sekaligus Obyek dari sebuah budaya itu adalah manusia; maka otomatis manusia memang memiliki ‘nature’ kanibalisme dong… Kl seperti ini berarti teori The Clash Civilization and Remaking of the World, Samuel P Huntington, hanyalah sebuah teori lama yg di-rebuild ulang oleh beliau…

Semoga kedepan, kita sebagai manusia, paham akan posisi masing-masing di mata Tuhan. Bahwa pembenaran di dunia ini, atas dasar apapun, hanyalah refleksi pembenaran dari Tuhan yang sifatnya relative. Nilai-nilai yang haq, absolute, dan tak terbantahkan, hanyalah milik Dzat yang transenden dengan kita, Allah SWT, Tuhan Yang Esa.

Selamat Berbuka. (Dira Wirawan, 2010)

Posted in Philosophy, Religion | Leave a comment

I don’t want to talk about racist…

I don’t want to talk about racist…!!

Beberapa minggu yang lalu, temen sekolahku dl di SMP sms dan cerita ke aku kalau dia resmi mengundurkan diri dari tempat kerjanya yang lama. Meskipun jika dilihat sekilas, temenku ini cukup ‘nyaman‘ dengan pekerjaannya yang dulu. Memang seh, untuk masalah ‘tebalnya dompet‘, ya aku sendiri juga kurang paham. Tapi dari ceritanya yg disampaikan ke aku, bahwa dia mengundurkan diri karena faktor rasis!! What?? Ya, dalam persepsi temenku itu, bahwa seberapa besarnya kontribusi dia untuk perusahaan tersebut, tidak akan mungkin dia masuk ke posisi manajer. Hanya orang-orang dari etnis tertentu saja yang dipercaya untuk menduduki posisi manajer keatas…. (persepsinya temenku). Tapi kalau aku pikir-pikir; jika seandainya aku yang jadi Big Boss dalam sebuah perusahaan, ngapain aku harus mempercayakan pekerjaan tertentu dalam usahaku hanya berdasarkan etnis?? Buat aku kan yang penting, dia mampu & perfect untuk ngerjain, usahaku jadi lancar, dan yang pasti uangku jadi nambah terus.

Lain cerita, lain kejadian. Ini terjadi ketika aku perjalanan dari Yogya ke Surabaya menggunakan bus. Di sebelahku ada seorang bapak-bapak yg memiliki bisnis kost-kost an di Surabaya. Beliau bilang gini; wah, repot mas kl yg kos tuh org Madura, sdh jorok, bikin rese, anarkis lg… Krn aku org Jawa, dg enteng aku bilang gini; itu yang jadi pejabat di negara kita, yg suka korupsi kebanyakan orang Jawa lho Pak….

Good night. Semoga kita menjadi makhluk Tuhan yg bijak…

Posted in activity | Leave a comment

Pembangunan Masjid di Ground Zero USA

Mau usul….

Dari pada menjadi bahan polemik di Negeri Paman Sam, bagaimana jika nanti di sebelahnya (Ground Zero) yang akan dibangun Cordoba House, juga dibangun sebuah gereja….??? Indonesia sudah bisa membuktikan lho; lewat Katedral – Istiqlal, dan beberapa tempat ibadah di daerah seperti di daerah Dadap – Tangerang ada sebuah masjid yang hanya berbatasan tembok dengan gereja. Sehingga pernah sewaktu saya tinggal di daerah sana, hari pertama bulan Ramadhan jatuh pada hari Minggu, pada saat itu bertepatan pula pemeluk Kristiani melakukan misa di gereja. Tetapi karena toleransi beragama di daerah sana cukup kuat, pihak gereja memutuskan untuk tidak mengadakan peribadatan di malam hari di saat umat muslim sedang melakukan shalat tarawih di sebelahnya. Toleransi yang sama pun diberikan ummat muslim terhadap pemeluk non Islam di daerah tersebut. Ini membuktikan bahwa kita BISA… Dan harusnya Amerika juga beritikad baik dan membuktikan totalitas demokrasi yang sedang diperjuangkan bersama untuk perdamaian dunia.

Siapapun orangnya, selama demokrasi diawali dg sikap santun dan husnuzhan, maka perdamaian dunia akan perlahan terbentuk dan terwujud… Amiin. God bless you, me, and them… Subhanallah

Posted in Religion | Leave a comment

Sebuah semangat….

Sekilas penampilannya sederhana. Umur masih muda (sekitar 26-28), kalau ke kampus dia cm pakai kemeja lusuh (ga diseterika), tas, dan absensi mahasiswa. Seringnya cuma jalan kaki dari kos-kosannya atau kalau nggak ya pakai sepeda ontel kl lagi ke kampus; tapi aku sering melihatnya hanya jalan kaki. Makanya ketika sampai kelas, sering aku melihat bajunya basah dengan keringatnya…

Pertama kali melihatnya aku teringat pada seorang teman di SMP dl, yang juga bisa dikategorikan pinter. Tapi sayang, kesempatan dan jalan hidup hanya mengantarkan dia untuk menikmati sepetak sawah yang ditinggalkan bapak&ibunya yang mulai tua… Tapi aku rasa dia menikmati itu, karena menurutnya itu lah bentuk rasa syukur terhadap-Nya.

Kembali kepada sosok yang aku ceritakan diatas; kesederhanaan dalam kepintaran, itu adalah benang merah antara dosen ini dengan teman lamaku di SMP dulu. Hanya bedanya sekarang, si dosen mendapatkan kesempatan (yang mungkin dari dosennya sebagai promotornya) untuk menempuh program pasca sarjana di sebuah institute terkenal di Indonesia. Menurutku seh, dia berhak untuk mendapatkan kesempatan belajar di luar negeri, tapi mungkin karena kesempatan yang dia dapat (cukup) di Indonesia, atau bisa juga dia gak mau melanjutkan studi ke luar negeri dengan alasan-alasan pribadinya sendiri.

Ketertarikannya terhadap fisika modern sangat tampak pada penjelasan-penjelasannya, fesbuknya, dsb. Tapi di kelas dia mengajarkan fisika klasik seperti hokum Newton and termodinamika. Aku seh bisa jamin, ini dosen pasti memiliki prestasi sekelas nasional dalam bidang science pada saat dia sekolah dulu. Memang untuk kategori dosen kelas malam (identik dengan mahasiswa yang sudah kerja and memilki pengalaman), dosenku ini bukan tipenya. Selain karena dari umur masih muda, materi juga selalu dia sampaikan apa adanya, tampak tidak ada transfer ilmu antara pengajar dengan mahasiswanya. Dia menjelaskan seperti dia sedang berkomunikasi dengan makhluk lain di luar sana dengan gaya fikir dia sendiri yang orang lain mungkin nggak sejalan dengannya. Apa yang terjadi di kelas pun dia nggak pikir pusing. Toh tugas dia hanya datang, absen, ngajar, udah, selesai terima gaji… Jujur, tambahan uang saku, bayar kos-kosannya, biaya hidup adalah tujuan dari itu semua. Dia akan cukup-cukup kan gajinya sebagai dosen yunior untuk hal tersebut diatas plus mungkin membiaya adik-adiknya dan keluarganya. Itu semua bisa aku baca dari kesederhanaan yang ditampilkannya di dalam kelas. Dan sebagai mahasiswa, aku salut!! Oh iya, satu yang pasti, dalam kondisi kayak gitu dia tidak memanfaatkan untuk menjual diktat, catatan kuliah, atau sebagainya ke mahasiswa!

Hmmm…, jujur aku sungkan kalau sering bolos dari kuliahnya. Dia nggak cari apa-apa dari aku kok. Dia hanya ingin mengajar, untuk menambah uang saku, menyambung hidup sebagai mahasiswa pasca sarjana di kota besar seperti Surabaya. Bravo bro!! Sukses terus dalam mewujudkan mimpimu seperti Arai dan Lintang di Laskar Pelangi. Tidak banyak pemuda Indonesia bisa seperti kamu. Banyak yang mimpi itu terpaksa tenggelam dalam mimpi seperti nasib temenku  SMP  dulu….

Posted in activity | Leave a comment

Apakah Biaya Pengobatan di Negeri Ini Sedemikian Mahal??

Apakah biaya pengobatan di negeri ini sedemikian mahal?? Sehingga office boy-ku takut membawa ibunya yang sakit parah untuk berobat ke dokter atau Rumah Sakit??

Sayang… ajal telah lebih cepat mengambilnya… Keikhlasan dan kerelaan adalah kunci yang dipakai untuk menghadapi penyakit komplikasi yang diderita. Mungkin office boy-ku lebih percaya tangan Tuhan yang datang dari atas pada suatu malam, menyentuh dan menyembuhkan (jika berkenan) penyakit yang diderita ibunya, dari pada seorang dokter spesialis sekalipun… Jadi jangan heran, ketika di menit-menit akhir, kumandang surat Yassin lebih dibutuhkan dari pada ICU.

Mengiringi kepergiannya, aku hanya berharap surga adalah tempat peristirahatan terakhirnya… Semoga dama di sisi-Nya… Amiin…

Posted in Uncategorized | 2 Comments

Ayo dukung Timnas Indonesia…!!

Ayo dukung Timnas Indonesia malam ini melawan Timnas Kuwait…!!

Posted in Uncategorized | 1 Comment

Terima kasih Pahlawanku…Semangat hari Pahlawan!!

Sebagai orang yang suka nulis di blog dan tinggal di Surabaya; akan terkesan memalukan jika di tanggal 10 Nopember ini nggak posting sebaris kata pun hal yang berbau dengan semangat pahlawan….

Dengan ikhlas dan kesadaran diri, mari sejenak kita tundukkan kepala dan panjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memohon ampun atas dosa-dosa individu yang telah rela mengorbankan harta dan hidupnya untuk sebuah kemerdekaan yang kita rasakan saat ini… Semoga apa yang telah beliau korbankan untuk bangsa dan negara ini, mendapatkan balasan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Kita yang hidup sekarang nggak gitu paham, apakah beliau-beliau yang telah mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan Indonesia yang kita rasakan saat ini, harus mendaftarkan diri dan memberikan dana sekian juta terlebih dahulu ke semacam badan atau komisi, seperti layaknya tokoh-tokoh sekarang yang ingin ‘berjuang‘ dengan repot-repot menjadi legislatif di parlemen…

Apakah untuk maju ke medan perang, melawan arogansi penjajah, harus melalui fit and proper test terlebih dahulu seperti layaknya seorang yang ingin daftar menjadi pegawai negeri di instansi pemerintah?? Apakah Bung Tomo dan pak Dirman dulu itu sebelum jadi tokoh dan pemimpin  yang disegani masyarakat juga harus melaporkan aset kekayaannya ke KPK, supaya ketika setelah beliau selesai berperang bisa diketahui berapa persen kenaikan aset pribadinya??

Sepanjang yang aku tahu, ketika kita bicara tentang hari Pahlawan 10 Nopember, adalah bicara tentang simbolisasi gigihnya perjuangan bangsa Indonoesia yang direpresentasikan oleh semangat arek-arek Suroboyo. Semangat arek-arek Surabaya dari dulu sampai sekarang yang nggak luntur adalah semangat NEKAT!! Makanya supporter Persebaya adalah BONEK; bondo nekat!!

“Koen yen macem-macem & nggatheli nyang Indonesia, tak gibengi koen!!”


Posted in Philosophy | Leave a comment

Banyak UKM/ROHIS Islam di kampus yang kurang mem-bumi syiarnya….

Kalau dulu pas sekolah atau kuliah sering ikut kegiatan UKM/ROHIS Islam, atau paling nggak pernah mengamati beberapa kegiatan ROHIS/UKM akhir-akhir ini. Ada beberapa bentuk kegiatan, yang menurut penulis, mengarah pada tema-tema yang sama.

Sekali dua kali aku mengamati di beberapa tempat, sebagai sebuah unit kegiatan rohani siswa/kemahasiswaan yang seyogyanya mengajak rekan-rekan se kampus untuk lebih menekankan sisi moral dari perspektif agama. Tetapi kadang justru gerakan/syiar-nya malah tidak ‘mem-bumi’ kesana. Tema yang mereka ambil lebih banyak pada diskursus-diskursus tentang bahaya dunia Barat terhadap komunitas Islam di Indonesia. Mereka lebih sering membicarakan tentang sekulerisme Barat yang anti Islam, atau bahkan mereka mengembangkan syak wasangka terhadap semua hal tentang Barat yang ada di dunia Islam (Timur Tengah) dan Indonesia pada khususnya. Penguasaan ekonomi dalam bentuk franchise-franchise asing, sistem pendidikan, dsb selalu dianalisa dari sisi mudharatnya. Di akhir poin, mereka menyimpulkan bahwa penerapan khilafah Islamiah secara menyeluruh adalah kunci dari (yang mereka anggap sebagai) problematika ummat Islam jaman modern…

Buat aku seh, itu sebuah kebebasan individu/organisasi untuk melakukannya. Pun sebagai unit kegiatan kampus/sekolah, mengkaji sesuatu dalam kerangka ilmiah adalah sesuatu yang wajar dan harus dilakukan. Tapi ketika melihat fungsi dari UKM/ROHIS Islam di sebuah institusi pendidikan adalah untuk men-syiarkan hal-hal yang Insya Allah lebih bermanfaat untuk dilaksanakan siswa selama dan setelah menempuh pendidikan di kampus tersebut.

Menurutku isyu-isyu yang sering mereka ungkap ‘terlalu tinggi’ untuk rekan-rekan, yang seharusnya menjadi obyek syiar mereka. Lebih mengena ketika mereka bicara tentang penanggulangan narkoba, pemantapan nilai-nilai kejujuran yang implikasinya pada kampanye anti korupsi sejak dini agar tidak mereka lakukan ketika nanti telah bekerja di instansi manapun, dsb. Syiar-syiar seperti mengajak untuk puasa Senin-Kamis secara bersama-sama, tafsir Quran, bahkan baca tulis Al Quran (yang aku yakin tidak semua siswa/mahasiswa sudah khatam Al Baqarah), lebih ditekankan untuk pembangunan generasi Islam, yang Insya Allah lebih kedepan untuk bangsa, negara, dan agama…

Untuk masalah kajian Islam-Barat yang selalu diopinikan negatif, lebih baik dikaji lagi secara komperehensif. Jangan sampai hal tersebut membuat generasi kita enggan untuk belajar dan mengembangkan ilmu ke Eropa atau Amerika, karena itu akan lebih membuat kita jauh tertinggal. Rasanya kita harus belajar dari Islam puritan/pinggiran di Indonesia yang lebih santun dan banyak makan asam garam terhadap infiltrasi budaya Barat serta ideologi-ideologi yang berseberangan dengan tauhid; sebut saja pengalaman penjajahan selama beratus-ratus tahun serta masuknya ideologi komunis di Indonesia.

Wassalam…

Posted in activity, Religion | Leave a comment

Mau usul sedikit pak Presiden…?!

Ada sedikit usul untuk Bapak Presiden… Meskipun Kabinet Indonesia Bersatu II sudah dilantik, tapi nggak salah dong kalau usul sekarang…

Begini pak. Gimana kalau Departemen Riset dan Teknologi tuh dipecah jadi dua. Yang satu Industrial and Applied Technology Department, trs yang satunya Science and Technology Department??

Maksudnya, ketika teknologi tersebut sudah memiliki ‘harga‘, maka lebih baik dikembangkan ke departemen yang mengurusi industri. Sedangkan ketika teknologi tersebut masih bersifat ‘murni‘ sains, maka lebih baik terus dikembangkan dan tetap bisa ‘dijual‘ dalam sisi education.

Finance kita untuk pengembangan teknologi tuh minim pak, sedangkan industri mikro dan industri skala besar di Indonesia masih nggak PeDe memakai dan mematenkan hasil pengembangan riset teknologi kita. Takutnya nggak laku dijual, made in Indonesia thok gitu lowh… Sektor industri kita belum berani seperti China, yang PeDe menjual barang (yang nyuwun sewu) kalau di Indonesia kelasnya nggak lebih dari hasil bengkelnya anak-anak STM.

Coba saja seandainya kita PeDe menjual hasil kita ke pasar domestik, at least bisa lebih dinamis pengembangan teknologi di Indonesia. Konsekuensinya, hasil yang sederhana ya dijual murah dong, kita main omzet aja. Kalau sedikit high technology ya baru dijual agak mahal. Lha wong di Yogya aja, celana jeans harga 25 rb laku, tapi yang harga 400 rb juga tetep laku…

Tengkyu pak Presiden kalau mau baca masukanku ini. Matur nuwun. Sugeng nyambut damel…

Posted in Mimpi, Uncategorized | 2 Comments

Kangen alm. Ibu….

Aku kangen alm.ibu….

Kangen sosok yang sederhana and apa adanya…. Ibu tuh istri yang menerima apa adanya tentang keluarga, tentang kondisi ekonomi dan pendapatan alm bapak yang hanya sebagai seorang petani. Ga pernah bermimpi muluk-muluk… sepanjang yang aku dengar sebagai seorang anaknya, ibu cuma pengin aku&bapak sehat, aku lancar sekolahnya dan dapat nilai bagus! That is it!! Ketika merasa bisa bantu bapak, ibu jualan sayur di Jakarta. Modalnya nol rupiah. Caranya seminggu sekali pinjem uang untuk modal, untungnya lalu ditabung. Yang aku tahu jualannya di pinggir rel kereta api deket Senen. Kalau dari ceritanya, setiap ada kereta yang mau lewat, ibu&temen-temennya berhenti sejenak untuk beresin barang jualannya biar nggak kabur kena kereta lewat… Ketika hujan datang, ya hanya berlindung di balik selembar plastik.

Sewaktu ibu disuruh bapak pulang untuk ngurus rumah yang keteter ditinggal sosok ibu, ibu pun nurut aja. Sewaktu kami dipaksa membagi jatah beras kami dengan diselingi dengan nasi jagung, ibu pun oke-oke aja memasaknya. Karena untuk dia, biaya sekolah anaknya lebih penting dari sekedar nasi putih!

Menjadi istri petani di desa harus bisa bantu bapak di sawah. Meskipun badannya kecil, ibu nggak capek membawa hasil panen dari ujung sawah ke ujung lainnya. Dulu sewaktu kita belum tinggal di desa, yang aku tahu ibu tuh berkulit putih, tapi ketika mendekati umur, kulit ibu berganti gelap karena setiap hari selalu dihabiskan waktunya di sawah.

Ibu orang yang bener-bener sayang keluarga. Sepeninggal ibu, aku sedikit kerepotan merawat bapak di desa sambil bekerja di luar kota. Pada saat itu aku pengin banget minta ke Tuhan untuk menghidupkan kembali sosok ibu untukku dan untuk bapak. Sewaktu ibu masih ada, bapak diperhatikan banget makan dan tensinya. Praktis aja, stroke yang diderita bapak bisa pulih kare perhatian ibu yang intens.

Ibu orang yang lebih memilih menitikkan air mata untuk ungkapin sesuatu yang sudah tidak bisa dijelasin dengan kata-kata. Emosinya lebih kuat dari pada logikanya. Ketika kangen dengan simbah (ibu tirinya ibu, yang telah membesarkan ibu dari kecil), ibu lebih memilih nangis dari pada memaksakan diri ke Lampung. Faktor pertama memang dulu kita nggak ada biaya untuk nengokin simbah ke Lampung, yang kedua ibu nggak bisa meninggalkan aku&bapak yang sedang stroke…

Jujur, sosok istri yang aku impikan adalah seperti ibu… Amiin.

Istirahat aja yang tenang bersama bapak di sisi Allah ya Bu?! Semua cita-cita kita yang belum terlaksana, akan aku wujudin…

Surabaya, November 2009

Posted in My family.... | 4 Comments